Menjadi jomblo seringkali dianggap sebagai suatu hal yang memalukan. Tak jarang, seorang yang jomblo dijadikan bulan-bulanan. Padahal, tidak ada yang salah dengan memilih untuk sendiri. Buku “Udah, Sendiri Saja Dulu” yang ditulis oleh Fikri Kembar ini mengajak pembaca untuk tidak malu dan minder dengan status jomblo yang disandang. Lebih lanjut, buku setebal 224 halaman ini juga mengupas…
Konon, perempuan adalah makluk perasa. Sedikit-sedikit dirasa. Sedikit-dikit merasa. Jika bahagia, seolah tidak ada akhirnya. Kalau bersedih, pasti berlama-lama dengan rasa sakitnya. Benarkah demikian? Ah, tidak semua perempuan demikian adanya. Masih ada yang mengutamakan logikanya dalam memutuskan sesuatu, terutama hal-hal penting dalam hidupnya. Meski sekuat apa pun perempuan, ia pasti aka…
Buku ini indah karena lembut berhias estetika spiritual yang halus dan tulus, tanpa ancaman dogma keagamaan atau paksaan arogansi keimanan! Jaya Suprana, Budayawan, Humanis, Kelirumolog Buku karya Ajahn Brahm ini adalah buku yang benar-benar mampu menyadarkan dan membuka "pintu hati" kita, bahwa setiap manusia ber-HAK menikmati kehidupan ini dengan penuh kebahagiaan dan kedamaian, bebas dar…
Buku ini merupakan perwajahan ulang dari buku "Membuka Pintu Hati" yang pernah diterbitkan oleh Penerbit Karaniya-Ehipassiko pada tahun 2005. Judul buku ini dipetik dari cerita pamungkas ke 108, yang bertajuk "Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya". Si Cacing diibaratkan kita-kita manusia; kotoran diibaratkan nikmat kehidupan dunia gemerlap nanfana ini. Kita tinggal dan bersenang-senang di dalam…
Pada abad ke-21 ini, muncul bocah-bocah cilik yang sudah hafal Ai-Qur'an; seperti Abdullah Fadhil asy-Syaqqaq (Saudi Arabia) pada usia 7 tahun, Muhammad Jauhari (Turki) pada usia 6 tahun, Muhammad Ayyub (Tajikistan) pada usia 5,5 tahun, dan lainnya. Namun dari itu semua, yang sangat mengagumkan adalah TABARAK & YAZID, 2 bersaudara yang berhasil khatam Al-Qur'an pada usia 4,5, dan diuji oleh al-…
Seperti hujan, kadang kita memaknainya sebagai keberkahan, kadang menganggapnya sebagai kondisi yang merepotkan. Begitu pun bahagia, tergantung perspektif kita dalam melihatnya. Ada yang merasa bahagia tinggal di rumah yang sederhana, ada juga yang tersiksa karena hanya itu yang menjadi miliknya. Allah memberikan sesuatu pada kita sesuai dengan porsinya. Dia juga telah menentukan siapa sia…
Cinta itu fitrah, namun apabila dalam sebuah hubungan itu tak ada kejelasan status, apakah layak cinta itu dipertahankan? Cinta itu tidak sekadar menyatakan suka, tidak sekadar mengumbar janji.,